lembaran-lembaran kertas, hanya untuk membeli sebungkus nasi, untuk kehidupan mereka sendiri. Bagaimana mereka ingin makmur, sejahtra, hidup senang? Sedangkan mereka hidup begitu keras di jalanan. Berbagai cara mereka tempuh, entah itu dengan mengamen, meminta-minta, bahkan mencopet sekali pun. Mana rasa kepedulian para petinggi negara? Hanya dibiarkan sajakah orang-orang seperti itu? Air mata mereka bercucuran, merindukan pendidikan, yang dulu sempat pernah mereka dapatkan. Berhenti karna sulitnya pembiayaan, yang memang menjadi momok permasalahan bagi mereka.
Berkawan dengan
pengembara jalanan lainnya, demi menyenangkan satu sama lain. Seorang
kesulitan, yang lainnya turut membantu, solidaritas seolah-olah sudah
merekat di dalam jiwa mereka. Keluarga kedua, ya, itulah yang mereka
sebut di saat mereka bersama. Sedih, sungguh sedih, ketika di saat kita
bersenang-senang dengan keluarga kita tercinta, dan melihat sesosok
pengembara jalanan, hati pun mulai tergiur untuk ingin mengajak mereka
bersama dengan kita, merasakan bagaimana rasanya tertawa riang gembira,
bersenda gurau, dan menikmati saat-saat bersama keluarga.
Dengan kekuatan mereka, mereka dapat menegarkan diri, mereka dapat membuat dirinya menjadi baik-baik saja. Sangat jarang ada yang bisa mengerti perasaan mereka. Seseorang yang dermawan, itulah yang mereka harapkan, mereka hanya butuh rasa kasihan, tidak lebih. Setiap hari menyongsong matahari, hingga sang surya pun terbenam, mereka masih berkeliaran di jalanan, sungguh tragis kehidupan mereka.
Dengan demikian, dapat
kita ambil makna dari kutipan di atas, hidup itu jangan selalu melihat
ke atas, tapi lihatlah ke bawah, sesungguhnya masih banyak orang yang
lebih tidak mampu dari pada kita. Sekian dan terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar