Selasa, 01 Mei 2012

Pengembara Jalanan

      Mereka adalah sosok yang sering kita temukan di setiap jalan, sosok yang selalu menampakkan wajah ceria'a di hadapan banyak orang, walau dalam hati mereka, mereka tidak mau menjadi seorang pengembara jalanan. Mereka ingin berpendidikan, mereka ingin meraih cita-cita, namun, zaman yang meruntuhkan keinginan mereka, rakyat jelata, semakin tersiksa, biaya hidup semakin berat, sangat sulit untuk memenuhi kehidupan sehari-hari pun. Berjuang mencari segenggam receh, mencari
lembaran-lembaran kertas, hanya untuk membeli sebungkus nasi, untuk kehidupan mereka sendiri. Bagaimana mereka ingin makmur, sejahtra, hidup senang? Sedangkan mereka hidup begitu keras di jalanan. Berbagai cara mereka tempuh, entah itu dengan mengamen, meminta-minta, bahkan mencopet sekali pun. Mana rasa kepedulian para petinggi negara? Hanya dibiarkan sajakah orang-orang seperti itu? Air mata mereka bercucuran, merindukan pendidikan, yang dulu sempat pernah  mereka dapatkan. Berhenti karna sulitnya pembiayaan, yang memang menjadi momok permasalahan bagi mereka.

      Berkawan dengan pengembara jalanan lainnya, demi menyenangkan satu sama lain. Seorang kesulitan, yang lainnya turut membantu, solidaritas seolah-olah sudah merekat di dalam jiwa mereka. Keluarga kedua, ya, itulah yang mereka sebut di saat mereka bersama. Sedih, sungguh sedih, ketika di saat kita bersenang-senang dengan keluarga kita tercinta, dan melihat sesosok pengembara jalanan, hati pun mulai tergiur untuk ingin mengajak mereka bersama dengan kita, merasakan bagaimana rasanya tertawa riang gembira, bersenda gurau, dan menikmati saat-saat bersama keluarga.

    Dengan kekuatan mereka, mereka dapat menegarkan diri, mereka dapat membuat dirinya menjadi baik-baik saja. Sangat jarang ada yang bisa mengerti perasaan mereka. Seseorang yang dermawan, itulah yang mereka harapkan, mereka hanya butuh rasa kasihan, tidak lebih. Setiap hari menyongsong matahari, hingga sang surya pun terbenam, mereka masih berkeliaran di jalanan, sungguh tragis kehidupan mereka.

     Dengan demikian, dapat kita ambil makna dari kutipan di atas, hidup itu jangan selalu melihat ke atas, tapi lihatlah ke bawah, sesungguhnya masih banyak orang yang lebih tidak mampu dari pada kita. Sekian dan terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar